PEDOMAN
DIKLAT
JAMINAN MUTU ( QA )
DI
RUMAH SAKIT DAN PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT.
I.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
2.
Tujuan.
II.
PERKEMBANGAN
DIKLAT JAMINAN MUTU
1.
Rumah Sakit
2.
Pusat
Kesehatan Masyarakat.
III.
PROGRAM
JAMINAN MUTU
Prinsip-Prinsip
Program Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan
Pentahapan
Program Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan.
IV.
PENTAHAPAN
PELATIHAN JAMINAN MUTU .
1.
Inisiasi
2.
Transformasi
3.
Integrasi.
V.
PENUTUP
DAFTAR
ISI
Hal.
|
BAB I BAB II BAB III BAB IV
|
PENDAHULUAN
. A.
LATAR BELAKANG
... B.
TUJUAN
. PERKEMBANGAN DIKLAT JAMINAN
MUTU
. 1.
DIKLAT JAMINAN MUTU DI
PUSKESMAS
.. DIKLAT JAMINAN MUTU DI RUMAH SAKIT
.. PROGRAM JAMINAN MUTU
1.
PRINSIP-PRINSIP JAMINAN MUTU 2.
TAHAP-TAHAP PROGRAM JAMINAN
MUTU
PENTAHAPAN PROGRAM DIKLAT
JAMINAN MUTU
. A.
FASE
INISIASI
.. B.
FASE
TRANSPORTMASI
. C.
FASE
INTEGRASI
. P E N U T U P
... |
|
A.
LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan dibidang pelayanan langsung
seperti Pusat Kesehatan Masyarakat dan Rumah sakit, bertujuan untuk meningkatkan
mutu, cakupan dan efisiensi
pelaksanaan rujukan medik dan rujukan kesehatan secara terpadu serta
peningkatkan dan pemantapan manajemen pelayanan kesehatan yang meliputi kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian
dan penilaian.
Sejalan dengan perubahan sosial budaya masyarakat
dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan pengetahuan
masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan informasi yang demi-kian cepat dan
diikuti oleh tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik
mengharuskan sarana pelayanan kesehatan untuk mengembangkan diri secara terus
menerus seiring dengan perkembang-an yang ada pada masyarakat tersebut.
Pengembang-an yang dilaksanakan secara tahap demi tahap berusaha untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit atau di pusat kesehatan
masyarakat tetap dapat mengikuti perubahan yang ada.
Apabila rumah sakit atau puskesmas tidak
memper-siapkan diri secara lebih baik dalam upaya peningkat-an mutu pelayanan,
maka sarana tersebut akan dijauhi masyarakat dan akan mencari sarana kesehatan
alternatif. Untuk itu setiap rumah sakit maupun puskesmas haruslah meningkatkan
penampilan masing-masing secara terencana sesuai dengan kebutuhan dan tuntuan
masyarakat agar dapat terus berkembang.
Salah satu usaha peningkatan penampilan dari masing
masing sarana pelayanan seperti rumah sakit dan puskesmas adalah dengan
meningkatkan mutu pela-yanan di semua unit pelayanan, baik pada unit pelayanan
medik, pelayanan penunjang medik, atau-pun pada unit pelayanan administrasi dan
manajemen.
Kegiatan peningkatan mutu tersebut diatas dapat
di-laksanakan dengan berbagai pendekatan atau kegiatan mutu diantaranya dengan
mengembangkan Gugus Kendali Mutu, Pengendalian Mutu Terpadu, Penyusunan/Penerapan
standar pelayanan atau
penyediaan pelayanan prima di rumah sakit atau di
pusat kesehatan masyarakat.
Untuk memperoleh keseragaman dalam penyeleng-garan
pendidikan dan pelatihan mutu tersebut diatas, maka perlu disusun suatu pedoman
yang merupakan petunjuk umum dalam penyelenggaraan pendidikan dan pel;atihan
mutu tersebut.
B.
TUJUAN
Tujuan
Umum :
Tujuan dari pada pedoman ini adalah memberikan
petunjuk/pedoman pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jaminan mutu
di Rumah Sakit dan Puskesmas.
Bab
II
PERKEMBANGAN DIKLAT JAMINAN MUTU
A.
DIKLAT JAMINAN MUTU PUSKESMAS
Di Puskesmas program jaminan mutu melalui
tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap
Analisis Sistem ( System Analysis).
Tahap ini ditujukan untuk menelaah sistem pelayanan
kesehatan melalui penggunaan daftar tilik dengan jalan melakukan
pengamatan terha-dap sesama puskesmas (Peer Review) dari beberapa
puskesmas oleh petugas yang telah dilatih. Pada tahap ini masalah masalah yang
dapat dipecahkan adalah masalah masalah dalam proses suatu kegiatan.
Pengamatan peer review ini dimaksudkan bahwa
puskesmas A (dengan petugas yang telah dilatih) menilai puskesmas B (terhadap
petugas yang belum pernah dilatih). Puskesmas B (dengan petugas yang sudah
dilatih) akan menilai puskesmas C (petugas yang belum dilatih). Puskesmas C (petugas
yang sudah dilatih) menilai puskesmas D (terhadap petugas yang belum pernah
dilatih) dan seterusnya hingga puskesmas E (petugas yang sudah dilatih)
akan menilai puskesmas A (petugas yang belum pernah dilatih). Hasil
masing masing pengamatan ini akan disaji-kan pada pertemuan di Dinas Kesehatan
Dati II sebagai bahan untuk memberikan umpan balik (Feed back ).
Selanjutnya Puskesmas yang bersangkutan akan
menyusun rencana perbaikan mutu pelayanan dalam bentuk
rencana kegiatan (POA) untuk diterapkan di Puskesmas masing masing.
Tahap
Supervisi ( Supervision Based)
Tahap ini merupakan lanjutan dari tahapan analisis
sistem yang didasarkan pada upaya supervisi untuk memonitor apakan rencana
kegiatan (POA) yang dibuat sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan atau tidak.
Dengan demikian petugas kesehatan di Puskesmas akan mampu menjaga mutu pelayanan
dengan jalan mematuhi standar pelayanan. Supervisi dilakukan oleh pimpinan
Puskesmas, Supervisor dari Dinas Kesehatan Dati II dan dari Dinas Kesehatan Dati
I ataupun dari Kanwil Depkes Propinsi setempat (Circuit Rider). Dari hasil
supervisi ini kemudian dibuat umpan balik yang sifatnya membangun.
Tahap
Pendekatan Tim (Team Based)
Tahap atau bentuk yang ketiga dari pada program
jaminan mutu di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah Pendekatan Tim.
Pada tahap ini masalah masalah yang dipecahkan adalah pada umumnya permasalahan
yang komplek, yaitu masalah masalah yang ditemukan dalam Out Put maupun Out Come
dari suatu kegiatan dimana untuk pemecahannya diperlukan adanya suatu Tim/kelompok.
Agar Tim/kelompok dapat bekerja dengan terarah diperlukan adanya kepemimpinan
Tim.
Untuk menunjang kegiatan kegiatan tersebut diatas,
maka Pusat Diklat Pegawai Departemen Kesehatan bersama sama dengan Direktorat
BUKP Dit Jen Binkesmas Departemen Kesehatan telah mengembangkan beberapa jenis
pelatihan yaitu :
Pelatihan
Analisis Sistem :
Pelatihan ini mempunyai struktur program pelatihan
sebagai berikut :
Pengertian
dasar Mutu
Analisa
sistem dalam program jaminan mutu.
Standar dan
Daftar tilik ( Checklist )
Pengumpulan
data secara Peer Review
Analisa Data
Teknik
Pemberian Umpan Balik
Pembuatan
Rencana Operasional.
Dinamika
Kelompok.
Secara keseluruhan pelatihan ini diberikan efektif
dalam 30 jam pelajaran, yang terbagi dalam Teori 13 jpl dan Praktek/Penugasan 17
jpl.
Pelatihan
Supervisi I :
Pelatihan mempunyai struktur program sebagai
berikut :
a.
Konsep
Supervisi
b.
Gaya
Supervisi
c.
Peran
Supervisor
d.
Metode/Teknik
Supervisi
e.
Instrumen/Standar
dan penggunaannya
f.
Umpan Balik
g.
Dinamika
Kelompok.
Secara keseluruhan pelatihan ini diberikan efektif
dalam 30 jam pelajaran, yang terbagi dalam Teori 9 jpl dan Praktek/Penugasan 11
jpl Praktek Lapangan 10 jpl.
Pelatihan
Pendekatan Tim.
Pelatihan ini mempunyai struktur program sebagai
berikut :
a.
Dinamika
kelompok
b.
Konsep
Dimensi dan Manajemen Mutu
c.
Kepemimpinan
Tim
d.
Penggunaan
Data
e.
Proses
Pemecahan Masalah
f.
Kalakarya
g.
Rencana
Monitoring dan Evaluasi.
Secara keseluruhan pelatihan ini diberikan efektif
dalam 30 jam pelajaran, yang terbagi dalam Teori 12 jpl dan Praktek / Penugasan
18 jpl.
Pelatihan
Supervisi II :
Pelatihan mempunyai struktur program sebagai
berikut :
a.
Konsep
Supervisi
b.
Gaya
Supervisi
c.
Peran
Supervisor
d.
Metode/Teknik
Supervisi
e.
Instrumen/Standar
dan penggunaannya
f.
Proses
Pemecahan masalah
g.
Umpan Balik
h.
Dinamika
Kelompok.
Secara keseluruhan pelatihan ini diberikan efektif
dalam 30 jam pelajaran, yang terbagi dalam Teori 9 jpl dan Praktek/Penugasan 11
jpl Praktek Lapangan 10 jpl.
Pelatihan
Jaminan Mutu Jarak Jauh :
Disamping jenis-jenis pelatihan yang disebutkan
diatas, ada pula jenis pelatihan lain berbentuk pelatihan jarak jauh. Materi
dari pada pelatihan ini banyak membahas tentang diklat pemecahan masalah.
Penyelenggaraan dari pada pelatihan ini adalah
dengan metode jarak jauh. Dilaksanakan selama 3 bulan. Bahan pelatihan ini
terdiri dari 11 Modul yaitu modul :
1.
Pendekatan
Kontingensi
2.
Pernyataan
Masalah
3.
Pemilihan
Masalah
4.
Pembentukan
Kelompok
5.
Analisis
Masalah
6.
Memahami
penyebab masalah
7.
Analisis
Informasi
8.
Membuat
Penyelesaian
9.
Penguji
Faktor pendorong (Insentif) untuk mencapai suatu perubahan.
10.
Penjajakan kemajuan
11.
Menjaga kelangsungan proses.
Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan pelatihan
pada ketiga tahap tersebut diatas, maka di tingkat Pusat dilaksanakan pula
pelatihan bagi pelatih jaminan mutu
seperti :
1.
Pelatihan
Circuit Rider
2.
Pemecahan
Masalah .
3.
Pelatihan
Tutor
4.
Kalakarya
jaminan mutu.
5.
Dll.
B.
DIKLAT JAMINAN MUTU DI RUMAH SAKIT
Mutu Pelayanan Rumah Sakit merupakan derajat
kesempurnaan pelayanan Rumah Sakit untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai
dengan standar profesi dan standar pelayanan profesi dengan menggunakan potensi
sumber daya yang tersedia di rumah
sakit secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan
memuaskan sesuai norma, etika, hukum dan sosio budaya, dengan memperhatikan
keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat sebagai konsumen.
Didalam mencapai mutu tersebut diatas, maka upaya
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit disusun berupa kegiatan yang komprehensif
dan integratif yang menyangkut Struktur, Proses dan Out Put/Out Come secara
objektif, sistematik dan berlanjut, memantau
dan menilai mutu dan kewa-jaran pelayanan tehadap pasien, menggunakan
peluang untuk meningkatkan pelayanan pasien
dan memecahkan masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang
diberikan di rumah sakit berdaya guna dan berhasil guna. Upaya pening-katan mutu
di rumah sakit bertujuan memberikan asuhan atau pelayanan sebaik baiknya kepada
pasien.
Adapun strategi upaya peningkatan mutu rumah sakit
adalah sebagai berikut :
a.
Rumah Sakit
harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan rumah
sakit sehingga dapat menyusun langkah langkah upaya peningkatan mutu masing
masing rumah sakit.
b.
Memberi
prioritas pada peningkatan sumber-daya manusia di rumah sakit termasuk
kesejarteraan karyawan, memberikan imbalan yang layak, program keselamatan dan
kesehat-an kerja, program pendidikan dan pelatihan, dll.
c.
Menciptakan
budaya mutu di rumah sakit, termasuk didalamnya menyusun program mutu rumah
sakit, menyusun tema yang akan
dipakai sebagai pedoman, memilih pendekatan yang akan dipakai dalam penggunaan
standar prosedur serta menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi.
Pelatihan peningkatan mutu yang sekarang ini
dilakukan di rumah sakit diantaranya :
Pelatihan
Total Quality Manajemen.
Pelatihan
Fasilitator Gugus Kendali Mutu.
Pelatihan
Manajemen Strateji RS
Pelatihan
Teknik Dokumentasi Standar Pelayanan Mutu RS
Pelatihan
Standar Asuhan Keperawatan.
Pelatihan
Akreditasi Rumah Sakit.
Pelatihan
Sumber Daya Manusia.
Pelatihan
Manajemen Pimpinan RSUD
Dll
BAB
III
PROGRAM JAMINAN MUTU
A.
PRINSIP-PRINSIP JAMINAN MUTU
Mutu tidak akan pernah dicapai dalam jangka waktu
yang singkat. Hal tersebut memerlukan waktu yang sangat bervariasi tergantung
dari pada standar mutu yang dinginkan. Pengertian
tentang program jaminan mutu mungkin sudah sering kita ketahui dari berbagai
sumber yang sangat bervariasi.
Secara singkat disebutkan bahwa program jaminan
mutu melibatkan setiap orang yang berada dalam organisasi untuk peningkatan
pelayanan yang terus menerus dimana mereka akan memenuhi kebutuhan standar dan
harapan dari pada pelanggan baik pelanggan intern ataupun pelanggan ekstern. Hal
ini adalah suatu metode yang mengkombinasikan teknik manajemen, keterampilan
teknik, dan pemanfaatan penuh potensi sumber daya manusia dalam organisasi
Puskesmas dan Rumah Sakit.
Program Jaminan Mutu dapat dibedakan dengan bentuk
manajemen yang lain, dimana jaminan mutu didasarkan pada prinsip prinsip sebagai
berikut :
a.
Setiap orang
didalam organisasi harus dilibatkan dalam penentuan , pengertian dan peningkatan
proses yang berkelanjutan dengan masing masing kontrol dan bertanggung jawab
dalam setiap mutu yang dihasilkan oleh masing masing orang.
b.
Setiap orang
harus sepakat untuk memuaskan masing masing pelanggan, baik pelanggan eksternal
maupun pelanggan internal.
c.
Peningkatan
mutu dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah yaitu dengan menggunakan data
untuk pengambilan keputusan, penggunaan alat alat statistik dan keterlibatan setiap orang yang terkait.
d.
Adanya
pengertian dan penerimaan terhadap suatu perbedaan yang alami.
e.
Pembentukan
teamwork. Baik itu dalam part time teamwork, fulltime teamwork ataupun cross functional team .
f.
Adanya
komitmen tentang pengembangan karyawan (development of employees ) melalui
keterlibatan didalam pengambilan keputusan.
g.
Partisipasi
dari pada setiap orang dalam kegitatan merupakan dorongan yang positif dan harus
dilaksanakan.
h.
Program
pendidikan dan pelatihan dianggap sebagai suatu investment/modal dalam rangka
pengembangan kemampuan dan pengetahuan pegawai untuk mencapai potensi mereka
harapkan.
i.
Supliers dan
Customer diintegrasikan dalam proses peningkatan mutu.
1). Orientasi
pada pelanggan
(
Customer Focus ).
Dalam pandangan tradisional, pelanggan berarti
orang yang membeli dan menggunakan produk suatu perusahaan/organisasi. Dalam hal
ini pelanggan tersebut berinteraksi dengan perusahaan setelah proses
menghasilkan produk. Sedangkan
pihak pihak yang berhu-bungan dengan organisasi/perusahaan sebe-lum tahap proses
disebut sebagai pemasok.
Dalam konsep quality manajemen pelanggan dan
pemasok ada didalam dan diluar organi-sasi. Pelanggan dikenal sebagai pelanggan
eksternal dn pelanggan internal. Pelanggan eksternal adalah orang yang
menggunakan produk atau jasa perusahaan. Pemasok eksternal adalah orang diluar
organisasi yang menjual bahan mentah/bahan baku, informasi atau jasa lain kepada
organisasi. Sedangkan didalam organisasi juga ada pelanggan internal dan pemasok
internal. Misalnya dalam pelayan-an pasien di Puskesmas dan Rumah Sakit. Dalam
pemeriksaan laboratorium misalnya, dokter dan tenaga paramedis merupakan
pelanggan internal dari pada petugas laboratorium, sedangkan bagian logistik
yang menyediakan bahan bahan pemeriksaan dan peralatan lainnya merupakan pemasok
internal. Oleh karena itu kualitas pekerjaan dari bagian logistik akan
mempe-ngaruhi kualitas pekerjaan petugas laboratorium dan sekaligus akan
mempengaruhi kualitas pekerjaan dari pada tenaga medis.
Pada hakikatnya tujuan dari pada bisnis adalah
untuk menciptakan dan mempertahankan para pelanggan. Demikian pula dalam
kegiatan pelayanan kesehatan target utamanya adalah untuk kepuasan pelanggan
dalam hal ini kesembuhan dari penyakit. Oleh karena itu hanya dengan memahami
proses dan pelang-gan maka organisasi dapat memahami dan menghargai makna dari
pada kualitas. Semua usaha manajemen dalam jaminan mutu diarahkan pada satu
tujuan utama yaitu terciptanya kepuasan pelanggan. Apapun yang dilakukan
manajemen tidak akan ada gunanya bila akhirnya tidak menghasilkan peningkatan
kepuasan pelanggan. Adanya kepuasan pelanggan dapat memberikan manfaat
diantaranya :
a.
Hubungan
antara Puskesmas dan Rumah Sakit dengan para pasien menjadi harmonis.
b.
Memberikan
dasar yang baik bagi kunjung-an ulang.
c.
Membentuk
suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of nouth) yang menguntung-kan
bagi Puskesmas dan Rumah Sakit.
d.
Reputasi
Puskesmas dan Rumah Sakit menjadi baik dimata pelanggan/pasien dan keluarga.
e.
Penghasilan
Puskesmas dan Rumah Sakit meningkat.
2). Perbaikan
Berkesinambungan
(Continuous
Improvement).
Persaingan global dan perubahan yang terjadi pada
setiap pelanggan merupakan alasan perlunya dilakukan berbaikan yang
berkesinam-bungan. Untuk mencapai perbaikan yang berkesinambungan para manajer
Puskesmas dan Rumah Sakit tidak cukup hanya menerima ide perbaikan, akan tetapi
juga secara aktif mendorong setiap orang untuk mengidentifikasi dan menggunakan
kesempatan perbaikan. Pelaksanaan proses berkesinambungan meliputi penentuan
masalah dan pemecahan yang memungkinkan, pemilih-an dan implementasi pemecahan
yang paling efektif dn efisien, serta evaluasi ulang, standari-sasi dan
pengulangan proses.
Proses pembelajaran merupakan elemen yang penting
dalam perbaikan. Pembelajaran mem-berikan dasar rasional untuk bertindak yang
merupakan elemen penting yang kedua dalam perbaikan. Tingkat dan luasnya
perbaikan dapat ditingkatkan dengan membuat perbaikan proses dan sistem sebagai
bagian dari strategi organi-sasi serta
menciptakan suatu sistem untuk perbaikan. Sistem tersebut haruslah mendu-kung
pengembangan keterampilan dan penge-tahuan anggota organisasi
untuk melaksa-nakan perbaikan. Hal hal yang harus diper-hatikan dalam
merancang sistem perbaikan antara lain, Pendidikan, Teladan manajer, tanggung
jawab yang jelas, Perbaikan diiden-tifikasi sebagai strategi yang penting,
Identifikasi dan prioritas tindakan perbaikan, metode sistematis untuk perbaikan,
dan lain lain.
Perbaikan terhadap mutu yang berkesinam-bungan
memerlukan beberapa persyaratan yang harus diperhatikan diantaranya adalah :
a.
Perbaikan
tersebut haruslah berdasarkan pada visi dan misi dari pada rumah sakit.
Didalam implementasi jaminan mutu di Puskesmas dan
Rumah Sakit, visi dan misi haruslah ditentukan yang merupakan dasar dan sentra
yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan seluruh kegiatan. Visi dan Misi
Puskesmas dan Rumah Sakit haruslah kemudian diinformasikan kepada semua karyawan
dari tingkat Manajer puncak sampai dengan pelaksana ditingkat front line. Dengan
harapan apabila setiap orang yang terlibat di rumah sakit tersebut sudah
mengetahui visi dan misi Puskesmas dan Rumah Sakit maka mereka akan bekerja
dengan suatu arah yang telah tertentu dan terencana dengan baik.
b.
Mengikuti
Tahap Strategi Perbaikan.
Didalam menerapkan perbaikan, dikenal berbagai
proses. Tidak ada satu satunya cara yang paling tepat untuk memperbaiki proses
perbaikan, baik itu dalam bidang manufaktur ataupun dalam bidang jasa. Meskipun
demikian ada beberapa strategi standar yang biasanya digunakan. Strategi
tersebut antara lain :
·
Menggambarkan
proses yang ada
·
Membakukan
proses
·
Menghilangkan
kesalahan pada proses
·
Merampingkan
proses
·
Mengurangi
sumber sumber terjadinya variasi
·
Menerapkan
pengendalian proses statistikal
·
Memperbaiki
rancangan
3).
Pendekatan Ilmiah
(Scientific
Approach).
Pendekatan ilmiah merupakan langkah sistematis bagi
setiap individu maupun Tim dalam proses pemecahan masalah dan per-baikan proses.
Hal ini berarti bahwa dalam pengambilan keputusan haruslah selalu berda-sarkan
pada data, dan bukanlah merupakan perkiraan saja. Disamping itu harus pula
melihat pada akar permasalahan dan bukan hanya berdasarkan gejala gejala yang
terlihat pada permukaan. Demikian juga dengan pemilihan alternatif pemecahan
masalah yang dipilih haruslah betul merupakan alternatif solusi yang baik jangan
lah merupakan solusi yang setiap saat harus diperbaiki.
Fokus pada pendekatan ilmiah adalah pengumpulan,
pengolahan dan pemanfaatan data. Dalam proses pengumpulan dan peman-faatan data
tersebut tidak dianjurkan untuk menggunakan ilmu statistik yang rumit. Dengan
hanya menggunakan alat alat statistik yang sederhana seperti Grafik, Bar Chart,
Perenca-naan waktu (Time Plot) dapat membantu para manajer atau petugas
kesehatan untuk menghasilkan suatu peningkatan mutu secara terus menerus dan
dengan demikian, selan-jutnya akan mengatasi seluruh permasalahan yang ada.
Banyak diantara kita telah bekerja selama bertahun
tahun tanpa menggunakan data. Kita
datang dengan berbagai ide untuk peningkatan kinerja organisasi kita. Akan
tetapi kita hanya berangkat hanya berdasarkan pengalaman yang diterapkan dalam
pekerjaan sehari hari atau hanya berdasarkan pembicaraan informal dengan para
pasien atau pelanggan lainnya. Akibatnya adalah apabila terjadi masalah
dikemudian hari, kita akan menggunakan pengalaman tersebut untuk mencari pemecah-an
masalahnya, maka kemungkinannya adalah bahwa masalah tersebut mungkin diatasi
atau masalah sama sekali tidak teratasi.
Tidak ada yang menyalahkan pengambilan keputusan
yang dilakukan berdasarkan penga-laman, pengetahuan, perkiraan ataupun dengan
intuisi seperti diatas. Kalau demikian halnya mengapa ditekankan tentang
pemanfaatan data?. Alasannya adalah sangat sederhana sekali yaitu bahwa
pemanfaatan data adalah alat yang sangat tangguh yang dapat diikutkan atau
diperhitungkan dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Peman-faatan data tidak dapat menggantikan penga-laman ataupun pengetahuan dalam
peningkat-an proses ataupun dalam pengambilan keputusan, akan tetapi pengalaman
dan penge-tahuan tidaklah cukup untuk menghasilkan suatu keputusan yang tepat.
Apabila kita diperhadapkan dengan masalah
masalah-masalah yang baru, biasanya kita
membentuk suatu teori tentang apa yang telah terjadi berdasarkan pengalaman.
Hal ini adalah suatu keadaaan yang normal. Akan tetapi kecenderungan yang
sering terjadi adalah bahwa kita
sering kali hanya melihat terhadap kesamaan dari pada kedua kejadian tersebut
dan kita tidak begitu melihat terhadap berbedaannya. Dengan menggunakan data
kita dapat menghindarkan perangkap-perangkap yang demikian. Penggunaan data
dapat menolong kita untuk mengerti lebih dalam apa yang telah terjadi pada
proses, service maupun produk.
Dengan menggunakan data akan dapat mem-bantu kita
memfokuskan permasalahan kita terhadap faktor-faktor yang betul-betul mem-buat
suatu perbedaan atau variasi. Disamping itu pemanfaatan data
dapat membantu kita menghemat waktu, energi dan penggunaan sumber daya
yang lebih efektif.
4). Kerjasama Team
(
Team Work ).
Sekarang ini kita sudah memasuki lingkungan atau
keadaan dimana goncangan-goncangan atau gangguan menjadi sesuatu hal yang biasa
dan perubahan merupakan suatu yang tetap terjadi.
Banyak faktor-faktor yang memaksa pengelola suatu Puskesmas dan Rumah
Sakit mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan pasar/pelanggan dengan cara efektif
dan efisien. Faktor-faktor ini diantaranya adalah termasuk kebutuhan untuk
merespon perubahan teknologi yang begitu cepat dan luas, kecenderungan
globalisasi disemua sektor dan tekanan-tekanan pengertian pasar terma-suk
keinginan dari pad pasien.
Untuk dapat menghadapi kondisi tersebut dibutuhkan
pengetahuan, ketrampilan,
penga-laman dan perspektif yang luas dan dilakukan secara bersama-sama dengan
orang orang yang bekerja atau berkaitan dengan rumah sakit. Hanya dengan
demikian setiap rumah sakit dapat diharapkan mengatasi masalah yang dihadapi,
membuat keputusan yang baik dan menyampaikan solusi tersebut terhadap
para costumer (pelanggan).
Dalam perkataan lain dibutuhkan kerja sama dalam
bentuk tim. Tim akan menciptakan suatu kondisi dimana para anggota akan tetap
mempertahankan perubahan, mempelajari lebih banyak tentang kebutuhan dan
memperoleh ketrampilan dalam kerja sama.
Dalam suatu organisasi, Team dibutuhkan apabila :
·
Tugas-tugas
yang diemban sangat kompleks.
·
Kreatifitas
dibutuhkan
·
Jalan yang
harus ditempuh belum jelas
·
Penggunaan
sumber daya yang lebih efisien dibutuhkan
·
Dibutuhkan
belajar lebih cepat
·
Mengerjakan
komitmen yang tinggi
·
Pelaksanaan
dari rencana membutuhkan kerja sama dengan orang lain
·
Tugas-tugas
atau proses bersifat cross fungsional
Semakin banyak tugas-tugas yang berhubungan dengan
hal diatas, maka organisasi akan mem-bentuk tim untuk mengatasi tantangan
tersebut. Perusahaan/Organisasi akan lebih tergantung pada tim bila mereka
menemukan bahwa metode pemecahan masalah yang tradisional, pengambilan keputusan,
komunikasi dan kompetensi tidak cepat atau cukup flkesible untuk merespon
terhadap perubahan yang ada. Tim-tim yang dibentuk akan digunakan dibuat banyak
bentuk, seperti Manajemen Team On going work team, Improvment Team, Gugus
Kendali Mutu, Forum Manajemen Menengah dll.
Puskesmas dan Rumah sakit menggunakan /
memanfaatkan team untuk mencapai tujuan-tujuan dengan perbedaan yang luas,
mengurangi peng-gunaan waktu yang tidak perlu, menambah siklus,
mengurangi kesalahan pelayanan pada pasien dan melaksanakan pekerjaan
sehari-hari, meningkat-kan transaksi, merancang kembali sistem yang ada, lebih
mengerti tentang kebutuhan pasien dan pelanggan lainnya.
B.
TAHAP-TAHAP PROGRAM JAMINAN MUTU
Pada umumnya program jaminan mutu tidak
dilaksanakan secara terburu buru. Program jaminan mutu biasanya dilaksanakan
secara bertahap mulai dari pada penyiapan sumber daya sampai dengan pemilihan
metoda atau kegiatan kegiatan yang dianggap sesuai dengan program tersebut.
Pada pedoman ini, tahap tahap program jaminan mutu
yang dipergunakan adalah tahap tahap sebagai berikut :
1).
Fase Inisiasi.
Fase ini adalah merupakan fase permulaan yang harus
dilalui. Dalam fase ini berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai
persiapan program jaminan mutu adalah berupa pengembangan kesadaran tentang
perlunya mutu diantara semua karyawan baik dari manajemen puncak sampai dengan
tingkat pelaksanan. Disamping itu perlu pula dikembangkan kepemimpinan yang
mem-punyai komitmen tentang mutu dan perubahan, menetapkan dan konsisten
terhadap tujuan peningkatan mutu yang menjadi visi organisasi, menyu-sun rencana
stratejik dan rencana operasional masing masing kegiatan serta mempersiapkan
infrastruktur untuk penerapan proses perbaikan yang berkesinambungan.
2). Fase Transformasi.
Langkah berikutnya setelah langkah diatas adalah
fase transformasi. Fase ini merupakan fase pemilihan proses proses prioritas
yang akan ditingkatkan dalam bentuk proyek percontohan, pembentukan kelompok
kelompok kerja yang kompeten terhadap proses proses tersebut. Pada fase ini
perbaikan yang berkesinambungan oleh kelompok
kelompok kerja sudah dilakukan dengan menggunakan siklus PDCA.
3). Fase Integrasi.
Fase ini merupakan aplikasi pelaksanaan program
jaminan mutu pad seluruh jajaran organisasi termasuk didalamnya adalah
pembentukan dan mempertahankan komit-men terhadap mutu melalui optimalisasi dan
proses perbaikan yang berkesinambungan, pelatihan pada seluruh karyawan, penetap-an
indikator, mengembangkan evaluasi dan monitoring terhadap mutu serta penerapan
proses perbaikan mutu yang berkesinam-bungan
pada semua unit dan lintas unit denganpembentukan kelompok kelompok kerja
yang mandiri.
Bab
IV
PENTAHAPAN
PROGRAM DIKLAT JAMINAN MUTU
1. Training Need
Assessment (TNA)
Perbaikan mutu yang diberikan
dengan terburu buru sering menyebabkan diambilnya keputusan yang salah tentang
jenis pelatihan yang akan diberikan. Kesalahan kesalahan yang paling umum tejadi
adalah sebagai berikut:
1.1
Seorang petugas mengatakan kepada suatu administrator Puskesmas dan Rumah Sakit
bahwa ia mempunyai keterampilan baru. Mendapatkan informasi demikian, manajemen
rumah sakit yang bersangkutan segera memberikan ketrerampilan tersebut kepada
karyawannya tanpa mengetahui apakah
karyawannya telah siap untuk mempelajarinya.
1.2
Suatu Puskesmas dan Rumah Sakit membeli peralatan baru untuk produk jasa
pelayanan yang baru tanpa mempertim-bangkan aspek pelatihan terlebih dahulu.
1.3
Puskesmas dan Rumah Sakit melaksanakan pelatihan umum mengenai konsep kualitas
secara luas tanpa menghiraukan bagaimana karyawannya akan menerapkan konsep
tersebut dalam pekerjaannya sehari hari agar kualitasnya menjadi lebih baik.
1.4
Suatu Puskesmas dan Rumah Sakit menge-tahui bahwa pesaingnya sedang menerapkan
teknik kualitas tertentu atau manajer Puskesmas dan Rumah Sakit tersebut membaca
dari majalah atau surat kabar bahwa teknik tersebut sedang populer, sehingga
dengan segera manajer tersebut memutuskan untuk melaksanakan pelatihan mengenai
penerapan teknik kualitas tersebut tanpa memikirkan apakah hal tersebut cocok
bagi Puskesmas dan Rumah Sakitnya.
Proses pelatihan dimulai
dengan pengumpulan data dan informasi yang dapat menggambarkan jenis
keterampilan yang dimiliki karyawan saat ini, dan keterapilan apa yang mereka
perlukan untuk mencapai rencana jangka pendek dan jangka panjang yang telah
ditetapkan, memuaskan pelanggan dan memperbaiki kualitas. Setelah data tersebut
sudah terkumpul , kemudian dianalisa dan akhirnya kebutuhan akan pelatihan dapat
ditentukan.
Pendekatan yang dilakukan
untuk mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan adalah sebagai berikut :
Menentukan keterampilan
karyawan yang diperlukan untuk mencapai strategi kualitasyang ditentukan oleh
Puskesmas dan Rumah Sakit. Ada beberapa metode yang dapat digunakan oleh para
manajer untuk menentukan kebutuhan pelatihan, diantaranya adalah :
a. Observasi.
Manajer Puskesmas dan
Rumah Sakit dapat melakukan observasi terhadap beberapa aspek pokok. Misalnya
apakah terdapat masalah masalah yang spesifik dalam masing masing bagian? Apakah
karyawan menghadapi masalah dalam melaksanakan tugas tugas tertentu
Apakah pekerjaan pekerjaan secara konsisten mendukung proses ?
b.
Wawancara
Manajer dapat
mewawancarai para karyawan agar mereka mengungkapkan kebutuhan mereka
berdasarkan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki. Karyawan mengetahui tugas
yang harus mereka kerjakan setiap hari. Mereka juga harus mengetahui tugas mana
yang dapat mereka kerjakan dengan baik, mana yang tidak dan pekerjaan mana yang
tidak dapat dikerjakan sama sekali. Brainstroming
sangat efektif dalam proses perbaikan yang berkesinam-bungan bila
karyawan bersedia mengemu-kakan pikiran dan pendapatnya.
c. Survei
Job - Task Analysis
Dalam tahap ini
dilakukan analisis terhadap dua aspek utama. Pertama terhadap aspek pekerjaan
secara keseluruhan dan kedua terhadap aspek pengetahuan, keterampilan serta
sikap yang dibutuhkan untuk melaksa-nakan pekerjaan tersebut. Berdasarkan
informasi dari hasil analisis tersebut, maka intrumen survei dikembangkan dan
disebar-kan kepada para karyawan yang akan diteliti. Dalam mengembangkan instrumen ada baiknya melibatkan karyawan
yang kan disurvei agar informasi yang diperoleh lengkap dan tidak mengabaikan
kriteria kriteria seperti keterampilan kerja sama tim, sensitivitas terhadap
umpan balik pelanggan terutama pelanggan internal dan keterampil-an
interpersonal.
d. Diskusi
Focus Group.
Dalam metode ini
kelompok karyawan tertentu diminta untuk membicarakan siklus mutu yang berkaitan
dengan pelatihan. Rapat yang dilakukan tanpa manajer atau penyelia tersebut akan
menjadi lebih terbuka untuk menyadari bahwa mereka memerlu-kan pelatihan.
e. Sistem
saran
Sistem saran
organisasi ( baik melalui kotak saran, maupun saran yang diajukan secara
langsung) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan.
1.
Melakukan
penilaian kebutuhan secara periodik untuk mengidentifikasi topik topik
yang baru.
2.
Menggunakan
proses identifikasi kebu-tuhan berkelanjutan yang meliputi eva-luasi
terhadap pelatihan yang telah diikuti karyawan dan saran dari unit bisnis
maupun para manajer akan
diperlukannya suatu pelatihan baru.
3.
Melakukan
Benchmarking (patok duga) terhadap Puskesmas dan Rumah Sakit lain untuk
menen-tukan apa yang mereka lakukan dan dimana mereka melakukan program
pelatihanbagi para karyawannya.
1.2. SEMINAR
TENTANG SADAR MUTU.
(
Quality Awareness Workshop ).
Kegiatan ini sangat penting
dilaksanakan sebelum kegiatan program jaminan mutu dilakukan pada suatu tempat.
Adapun tujuan dari pada kegiatan ini adalah untuk membangun suatu komitmen yang
tinggi dari pada petugas kesehatan terutama petugas Puskesmas dan Rumah Sakit
beserta instansi terkait dari tingkat manajemen atas sampai dengan tingkat
pelaksana mutu itu sendiri.
Adapun topik topik yang
diberikan dalam seminar ini adalah : Pengertian mutu, Jaminan Mutu, Budaya Mutu,
Konsep Pelanggan, Manfaat Mutu dll, tergantung dari pada waktu yang disediakan
dalam workshop tersebut.
1.3. MENGEMBANGKAN KEPEMIMPINAN
MUTU.
Kepemimpinan yang berwawasan mutu merupakan
kemampuan untuk membang-kitkan semangat orang lain agar bersedia dan memiliki
tanggung jawab menyeluruh terhadp usaha mencapai
tujuan.
Fungsi kepemimpinan mutu adalah sebagai berikut :
1). Perencanaan Mutu :
Fungsi ini meliputi identifikasi pelanggan dan
kebutuhannya, mengembangkan produk sesuai
kebutuhan pelanggan, me-ngembangkan metode dan proses kerja dan mengubah hasil
perencanaan keda-lam tindakan.
2).
Pengendalian Mutu :
Fungsi ini mencakup langkah langkah evaluasi
kinerja aktual, membandingkan kinerja dengan tujuan, melakukan tindakan
perbaikan untuk mengatasi perbedaan kinerja yang ada.
3).
Perbaikan Mutu.
Fungsi ini meliputi penyediaan prasarana untuk
perbaikan mutu secara berkesinam-bungan, identifikasi proses datu metoda yang
membutuhkan perbaikan, memben-tuk tim yang bertanggung jawab atas program
perbaikan mutu, menyediakan sumber daya serta pelatihan yang dibutuh-kan oleh
tim dalam memecahkan masalah.
1.4.
MENETAPKAN TUJUAN PENINGKATAN MUTU
Pada langkah ini perlu dirumuskan secara tepat dan
benar tentang tingkat kesenjangan kinerja yang terjadi, sehingga akan semakin
jelas dan tepat kearah mana tujuan yang ingin dicapai dalam peningkatan mutu.
Tujuan digambarkan dalam bentuk kuantitas yang
harus dicapai ketika program sudah selesai. Beberapa petunjuk yang perlu untuk
menuliskan tujuan adalah sebagai berikut :
1.
Spesifik.
Tujuan haruslah bersifat spesifik, dan tidak
terlalu mengambang. Spesifik berarti bahwa target yang akan kita capai itu sudah
menjurus atau terfokus pada sesuatu issue/topik.
2. Measurable.
Tujuan yang akan kita capai sedapat mungkin
haruslah dapat diukur melalui indikator tertentu.
3. Achievable.
Tujuan yang telah ditetapkan sedapat mungkin harus
dapat dicapai
4. Realistis.
Tujuan yang diinginkan sifatnya realis, tidak muluk
muluk.
5.
Time Bound.
Untuk mencapai tujuan tersebut haruslah dalam batas
waktu tertentu.
1.5.
MENYUSUN RENCANA STRATEJIK DAN OPERASIONAL
Penyusunan rencana stratejik dan rencana
operasional dari masing masing Puskesmas Rumah Sakit sebaiknya berdasarkan
analisa SWOT dengan memperhitungkan faktor faktor eksternal dan internal dari
pada rumah sakit. Dari kesenjangan nilai yang ditemukan berdasarkan analisa
tersebut, disusun sutau rencana aksi yang kegiatannya berfokus pada visi dan
misi organisasi.
Jenis-Jenis Pelatihan pada fase ini antara lain:
Pelatihan/Orientasi tentang Mutu
Pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pelatihan (TNA).
Pelatihan Peer Review
Pelatihan Penyusunan Standar dan Dokumen-tasi Mutu.
Pelatihan Kepemimpinan Mutu
Pelatihan Manajemen Stratejik
Pada fase ini beberapa strategi yang sarankan
adalah sebagai berikut :
·
Pemilihan
proses proses prioritas yang akan ditingkatkan dalam bentuk proyek percontohan.
·
Pembentukan
kelompok kelompok kerja yang kompeten terhadap proses proses tersebut.
·
Identifikasi
anggota untuk masing masing kelompok kerja
·
Proses dalam
kelompok kerja untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan dengan siklus
PDCA atau PDSA
·
Evaluasi
Jenis-jenis Pelatihan dalam fase ini antara lain :
1).
Pelatihan Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan
2).
Tim Building
3).
Analisa tugas dan Analisa Jabatan.
4).
Supervisi
5).
Management and Statistic Tools
6).
Monitoring dan Evaluasi
Pada fase ini strategi yang disarankan adalah :
·
Mengintegrasikan
pelaksanaan CQI pada seluruh jajaran organisasi
·
Membentuk
dan mempertahankan komitmen terhadap mutu melalui optimalisasi dan proses
perbaikan yang berkesinambungan
·
Pelatihan
pada seluruh karyawan
·
Penetapan
indikator mutu
·
Pengembangan
sistem surveillance dan evaluasi mutu yang tepat
·
Penerapan
proses perbaikan mutu yang berkesinambungan pada semua unit dan lintas unit
dengan pembentukan kelompok-kelompok kerja yang mandiri
Jenis Jenis Pelatihan pada fase ini antara lain :
1). Asuhan
Keperawatan
2). Standar
Pelayanan Medis
3).
Manajemen Review
4).
Pelatihan Internal Audit Mutu and Corective Action
5).
Penyusunan Indikator
6).
Monitoring dan Evaluasi
Bab V
PENUTUP
Kegiatan Jaminan Mutu merupakan suatu kegiatan yang
integral yang harus tersirat dalam setiap kegiatan dalam pelayanan kesehatan.
Mutu harus dilihat dari berbagai dimensi , dan pemenuhan setiap dimensi
mempunyai persyaratan persyaratan tertentu.
Untuk menghasilkan suatu pelayanan yang bermutu
diperlukan waktu yang relatif panjang dan membutuhkan kerja sama yang baik
dari pada semua unsur yang terlibat dalam rumah sakit.
Beberapa prinsip dalam jaminan mutu yang harus
diikuti adalah Fokus pada pelanggan, Pendekatan ilmiah, Perbaikan yang
berkesinambungan dan Pemanfaatan Tim dalam pengambilan keputusan.