Sebuah
organisasi ataupun perusahaan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan
perubahan zaman. Perkembangan ilmu dan teknologi mengharuskan kita selalu aktif
untuk membuka mata dan telinga terhadap perubahan yang terjadi. Peralihan zaman
dari Information Age menjadi Conceptual Age semakin dekat. Penyelenggaraan
pelatihan menjadi salah satu jawaban bagi perusahaan untuk men’charge’kan
kembali kinerja karyawan. Mulai dari pelatihan yang berupa teknis hingga
pelatihan yang mengedepankan perubahan attitude kerap kali menjadi pilihan
perusahaan dalam memenuhi kebutuhan Sejauh mana pelatihan tersebut dianggap
penting atau tidak penting dalam sebuah organisasi/perusahaan, perlu dilakukan
atau tidak? Berikut ini dijabarkan beberapa pendapat dari berbagai sumber.
Mengapa pelatihan?
Menurut Ary Ginanjar
A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ
menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk
berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak
diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran
yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi,
ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada
pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh
sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam
menghadapi perubahan yang ada.
Hal senada juga
disampaikan dalam buku Prof Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi
Pendidikan yang mengatakan bahwa perubahan lingkungan, tentu saja tidak
dapat diatasi dengan cara lama, termasuk pengetahuan, teknologi, dan
manajeman, serta kepemimpinan. Menghadapi perubahan dan masalah baru tersebut
maka setiap organisasi yang ingin bertahan hidup dan ingin berkembang, harus
dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cara-cara atau pendekatan baru.
Dalam buku Ary
Ginanjar A, juga ditemukan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan Robert
Kelley, dari Carnagie Mellon University di Carnagie Mellon University yang
menunjukkan bahwa presentase kebutuhan pengetahuan dalam mengerjakan tugas dari
dalam benak sendiri adalah sekitar 75% ditahun 1986 dan terjadi penurunan
sekitar 15-20 % pada tahun 1997. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan
bahwa keberhasilan seorang pekerja/karyawan bukan berdasarkan pengetahuannya saja,
tetapi ada aspek lain di luar itu yang lebih penting yaitu EQ dan SQ.
Oleh sebab itu
pelatihan merupakan salah satu jawaban dalam menjawab tantangan perubahan zaman
tersebut. Teori dan praktek yang selama ini diterima oleh pekerja/ anggota
organisasi sebelum ia menjalani pekerjaannya dimasa sekarang bisa jadi sudah
usang. Ataupun praktik pekerjaan atau kinerja yang ia lakukan sekarang ini bisa
jadi cuma pengulangan dari pola rutinitas yang ia lakukan selama ini. Bangku
pendidikan formal yang telah dienyam oleh para pekerja sebelum ia memasuki real
world bukan merupakan garansi, bahwa ia akan menjadi kompeten sesuai
bidangnya. Seperti yang dikemukakan bapak Ary G.A, kebiasaan menghafal teori
selama ini sering dilakukan dengan hanya menggunakan kepala bukan dengan hati.
Akibatnya hanya ingat dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dipraktikkan, teori
terbuang percuma. Setelah diingatkan kembali barulah menyesal.
Lantas seperti apakah
pelatihan yang seharusnya ada?
Dalam buku Meningkatkan produktivitas
karyawan, Seri Manajemen No.95: yang disunting oleh Bambang Kussriyanto,
Keberhasilan pelatihan tergantung pada 3 hal:
Dalam buku itu juga
dikemukakan bahwa idealnya pelatihan dilaksanakan begitu penyelia baru
diangkat, hal ini merujuk pada asumsi bahwa selagi mereka masih penuh semangat
dan gembira serta sebelum mereka dijangkiti kekhawatiran bahwa mereka tidak
mampu melakukan tugas, sehingga lambat laun akan membentuk rasa rendah diri.
Akan tetapi kenyataannya seringkali penyelia bekerja terlebih dahulu beberapa
waktu, dan baru diberi pelatihan manakala kesulitan dalam bidang tertentu.
Selain itu pelatihan
harus dimaksudkan untuk membina bakat-bakat baik disamping untuk mengobati
kekurangan. Baik segi-segi yang merupakan kekuatan maupun segi-segi yang
merupakan kelemahan harus diperhatikan dan diolah secara seimbang dalam program
pelatihan yang diselenggarakan.
Pelatihan kognitif vs
pelatihan attitude
Semenjak para pemimpin
perusahaan menyadari pentingnya sebuah mentalitas dan attitude, mereka
kemudian mengirimkan pada manajernya serta staffnya untuk mengikuti training
dengan harapan agar terjadi suatu perubahan mental pada karyawannya. Meski
terkadang hasilnya memang terlihat cuma beberapa saat. Pemikiran tentang
pealtihan yang berdasarkan pada nilai kognitif semata telah beranjak menjadi
pelatihan mental.
Orientasi bisnis
seharusnya menggunakan pondasi pada optimalisasi spiritual capital bukan
material capital. Yang dibenarkan oleh ahli psikologi, Victor Frankl, yang
mengetakan bahwa mereka yang mampu mamaknai setiap aktivitasnya, memiliki
kekuatan unutk bertahan hidup di dunia fana ini. Lebih lanjut Kouzes, dan
Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang
tinggi bukanlah pada kokohnya core values perusahaan, tetapi lebih
kepada personel values (nilai-nilai pribadi karyawan) yang kokoh. Karena nilai
pribadi itu yang tercermin dalam praktik bekerja dan komitmen bekerja bukan
nilai perusahaan. Nilai individu yang dianut memgang kendali utama. (Agustian,
Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ)
Oleh sebab itu
tidaklah pelatihan karyawan sebuah perusahaan cukup dengan pelatihan kognitif
saja, tetapi juga aspek SQ dan EQ-nya yang mengacu pada perubahan mental dan
attitude karyawan..
Pelatihan yang berkontinu
(terus-menerus)
Peter Drucker
menunjukkan bahwa justru dengan pelatihan yang terus-meneruslah orang Jepang
membuat pekerja makin besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya dan
alat-alat yang digunakan. Pelatihan membuat pekerja mengerti akan prestasinya,
prestasi bawahannya, prestasi teman sejawatnya, prestasi perusahaannya, dan
berusaha untuk meningkatkan prestasi2 itu. Pelatihan menciptakan komunitas
kerja dan pekerja. (Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan
produktivitas karyawan)
Terlalu sering dampak
nyata sebuah pelatihan, apapun jenisnya adalah mereka hanya mendapat energi
baru. Manfaat training memang sangat dirasakan seperti: memahami arti penting
berpikir positif, proaktif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen, atau
sinergi. Akan tetapi setelah 3 bulan, biasanya peserta sudah lupa untuk
mempraktikkan konsep pada buku tersebut. Yang tersisa tinggallah slogan-slogan
seperti: you can if you think you can, think globally act locally, there is
a way there is a will, dst, Sesudah itu para peserta pelatihan kembali pada
kebiasaan lama mereka sebelum pelatihan. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ),
Karenanya kontinuitas
dalam pelatihan sangat menentukan hasil akhir peningkatan performance para
pekerja, sebab selayakanya sifat dasar manusia pada umumnya yaitu cepat lupa.
Dampak pelatihan
Dampak yang paling
umum dari sebuah sebuah pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri
peserta, setidaknya untuk sementara waktu. (Ginanjar, Ary. Rahasia Sukses
Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, mengutip dari Richard Boyatzis, Consequences
of Rejuvenation as Competency-Based Human Resources and Organisation
Development, Research in Organizational Change and Development IX, 1993)
Sebuah training yang
diikuti pesertanya dengan dilandasi kesadaran dirinya yang kuat, yang sesuai
dengan suara hatinya maka ia akan menjadi jawaban dari metode pembentukan
karakter (mental building). Selain itu terus berkelanjutan dan bisa
dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga meghasilkan peningkatan ESQ secara
berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup. Selain itu hendaknya sebuah
training mengahsilkan internalisasi karakter, yang tentu saja harus
dilakukan secara kontinu. Bila tidak secara kontinu, manfaat training yang
begitu hebat terasa singkat
Berikut ini Ilmu pembentukan mental dan
attitude (EQ) yang dikemukakan Ary Ginanjar Agustian bahwasanya:
Pemahaman ŕ
pelatihanŕ kebiasaanŕkarakterŕkeberhasilan
Beberapa contoh pelatihan
ESQ*
1. Pelatihan penjernihan
emosi melalui wudhu,
Membasuh wajah ŕpenjernihan
dan penyucian hati serta pikiran
Membasuh tangan ŕ
penyucian segala kegiatan
Membasuh kepala ŕ
pikiran yang suci
Membasuh kaki ŕ
langkah lurus nan bersih
2. Doa iftitah
Secara berulang-ulang menyatakan tentang
kesucian Allah. Hal ini akan mendoktrin jiwa seseorang untuk selalu mengikuti
teladannya yaitu Allah Yang Maha Suci. Hasil akhir yang diharapkan adalah
sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.
3. Rukuk dan sujud
Rukuk—pujian dan keinginan
Memuji artinya
menjunjung, dan orang yang menjunjung akan menempatkan sesuatu hal pada tempat
yang tinggi.Menghasilkan pemikiran yang selalu menjunjung tinggi kesucianatau
kejernihan hati, pikiran, dan tindakan yang bebas dari berbagai
belenggu.Selanjutnya ia kan menyakini bahwa kejernihan hati dan tindakan akan
membimbing seseorang pada keagungan
* (sumber: buku Rahasia
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual
quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam)
Kesimpulan
Pelatihan dalam sebuah
organisasi/perusahaan sangatlah penting sejalan dengan budaya organisasi,
pembentukan mental karyawan dan peningkatan kinerja sesuai dengan perkembangan
zaman. Pelatihan yang diselenggarakan hendaknya tidak menekankan aspek kognitif
saja, tetapi juga aspek attitude yang tercermin dalam penerapan EQ dan
SQ.
Selain itu pelatihan
yang baik hendaknya memperhatikan kontinuitas dari pelatihan tersebut, sesuai
dengan filosofi long life education yang berpijak pada pendidikan orang
dewasa, sehingga manfaat dari pelatihan tersebut tidak hanya dirasakan dalam
beberapa waktu saja kemudian hilang seketika, tetapi tetap tertanam dalam
budaya organisasi. Jangan sampai tagline salah satu iklan “ sudah lupa tuh..”
menghiasai karyawan-karyawan yang rajin ikut pelatihan.
Daftar Pustaka
Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih
Teknologi Pendidikan.
Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen
No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan. LPPM bekerjasma dengan PT Pustaka
Binaman Pressindo.
Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses
Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient
berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam. Penerbit Arga.
Tulisan ini dibuat sebagai
tugas kuliah ke-2 (pentingnya pelatihan dalam organisasi) mata kuliah Desain
Pelatihan, program studi Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri